Tampilkan postingan dengan label Data. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Data. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 April 2020

Apple Luncurkan Web Lacak Pergerakan Manusia di Tengah Pandemi Corona

Sumber: google.com


Raksasa teknologi Apple mengatakan bahwa pihaknya akan merilis Data yang diklaim dapat membantu memberikan informasi kepada otoritas kesehatan mengenai kegiatan seluruh orang selama kebijakan lockdown atau karantina mandiri. Guna memutus mata rantai penyebaran wabah COVID-19.

Data tersebut dikumpulkan dari aktivitas setiap pengguna IPhone yang menggunakan layanan Apple Maps. Nantinya akan dibandingkan dengan aktivitas sebelumnya untuk melihat adanya perubahan intensitas pengguna baik dalam hal mengemudi, berjalan atau menggunakan angkutan umum di seluruh dunia.

Kata Apple, informasi tersebut diperbarui setiap hari dan akan dibandingkan dengan kegiatan yang dilakukan pada pertengahan Januari. Sebelum sebagian besar negara melakukan lockdown seperti yang dilakukan Amerika Serikat.

Kini, terdapat lebih dari 90 persen orang Amerika berada di bawah perintah untuk tetap di rumah dan berbagai sistem karantina sedang berlangsung di negara-negara lain di seluruh dunia.

Nantinya Data akan dikumpulkan, dengan tetap menjamin Data pengguna individu untuk tidak ditampilkan, serta tidak melacak pengguna individu atau lokasi mereka.

Apple juga tidak akan merekam perjalanan seseorang jika penggunanya belum mengaktifkan navigasi dari layanan Apple Maps.

Apple mengatakan pihaknya akan terus bekerja dengan beberapa pejabat kesehatan masyarakat untuk mengidentifikasi jenis Data atau tren apa yang mungkin membantu.

Informasi tersebut tersedia di situs web publik www.apple.com/covid19/mobility, yang akan menunjukkan perubahan pergerakan orang untuk kota-kota besar dan 63 negara atau wilayah.



Sumber: akurat.co

Selasa, 07 April 2020

Kepada Peneliti COVID-19, Mulai Saat Ini Facebook akan Beri Lebih Banyak Data Survei

Sumber: google.com


Facebook, kemarin, menyatakan diri sebagai bagian dari Heat Map Project untuk penelitian COVID-19. Facebook yang bekerjasama dengan Universitas Carnegie Mellon akan mulai menyelidiki kesehatan beberapa sample dan kasus di Amerika.

Raksasa media sosial yang dikomandoi Mark Zuckerberg itu akan menampilkan tautan di bagian atas berita untuk memandu mereka pengguna ke laman Survei. Dengan Survei tersebut, peneliti dapat memperkirakan area mana yang membutuhkan sumber daya medis. Jika metode ini berhasil dan berdampak besar, tim Facebook juga akan memberikan hasil Survei ini kepada pengguna di negara lain.

Google, sebagai pesaing Facebook di bidang periklanan mobile, bulan lalu juga sudah mulai melakukan Survei untuk proyek yang dilakukan oleh Universitas Carnegie Mellon melalui aplikasi Survei pemenang penghargaan (Opinion Rewards). Survei ini memberi benefit bagi pengguna untuk mendapatkan poin di toko aplikasi (Play Store).

Untuk Survei ini Facebook memberi jaminan, baik Facebook maupun para peneliti di Universitas Carnegie Mellon tidak akan membagikan Data Survei pribadi pengguna kepada siapapun.

Singkatnya, Facebook menjamin tidak akan terjadi kebocoran Data pengguna seperti yang terjadi beberapa waktu lalu.

Perusahaan juga mengatakan akan mulai mengorganisir Data baru, termasuk Data lokasi, dan memberikannya kepada ahli epidemiologi melalui program Peta Pencegahan Penyakitnya. Data baru tersebut saat ini sudah digunakan di 40 negara.
Para peneliti menggunakan Data ini untuk memberi advice kepada pejabat di negara-negara terkait, serta beberapa kota dan negara bagian di Amerika Serikat dalam memerangi COVID-19.




Sumber: akurat.co

Senin, 06 April 2020

Zoom akan Menyimpan Data Pengguna di Cina

Sumber: google.com


Dalam sebuah pertemuan, para peneliti The Citizen Lab, Universitas Kanada, menunjukkan bahwa Zoom menggunakan metode AES-128 untuk enkripsi Data. Sedangkan, untuk koneksi sementara, mereka menggunakan metode ekripsi AES-256 
yang diklaim lebih kuat.

Para ahli telah menemukan bahwa Data yang diproses dengan enkripsi AES-128 berasal dari Server aplikasi. Dalam beberapa kasus, Data akan dikirim ke Server Zoom in Cina. Sialnya, berlaku untuk semua pengguna, termasuk bukan pengguna yang berasal maupun berdomisili di Cina.

CEO Zoom, Yuan Zheng, menanggapi persoalan Data tersebut. Ia menyebut, Zoom selalu dibedakan secara geografis, dan pengguna Eropa dan Amerika terhubung ke Server lokal). Namun, jika beberapa Server macet di jaringan, aplikasi akan berusaha menemukan Server yang sesuai secara berurutan.

Memang, pandemi COVID-19 membuat layanan konferensi video mengalami ledakan bersejarah. Dan jika terjadi hingga jangka waktu yang lama, bisa dibayangkan sibuknya aktivitas Server penyedia layanan video conference. Dan bukan tidak mungkin, pemilik aplikasi akan memiliki akses Data yang kuat.




Sumber: akurat.co