Tampilkan postingan dengan label Tanah Papua. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tanah Papua. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 Mei 2022

Lebih Memilih Untuk Pendekatan Keamanan, Giay: Kenapa Sih Gak Mau Berdialog Sama Orang Papua?


Tokoh Papua, Dr. Benny Giay mempertanyakan mengapa pemerintah Indonesia hingga saat ini tidak mau berdialog dengan orang Papua. Pemerintah Indonesia malah memilih melakukan pendekatan keamanan dengan mengirim tentara dan polisi ke Tanah Papua.

Hal itu disampaikan Benny Giay dalam diskusi publik “Imajinasi Orang Papua Sebagai Bangsa (Melanesia)” yang diselenggarakan secara daring oleh Pusat Riset Kewilayahan Badan Riset dan Inovasi Indonesia (BRIN), pada Kamis (19/05/2022).

Giay menegaskan, dialog penting demi keselamatan orang Papua. Pemerintah Indonesia harus menyelesaikan masalah di Papua seperti menyelesaikan masalah yang terjadi di Aceh. Bukan dengan jalan  mengirim pasukan keamanan.

“Dulu wakil presiden, Jusuf Kalla habis-habisan dialog dengan GAM Aceh dan dimediasi oleh negara yang netral,” ujarnya.

Giay menyatakan bahkan hingga di masa Presiden Jokowi yang sudah 13 kali berkunjung ke Papua, tidak ada keseriusan pemerintah untuk berdialog dengan orang Papua. Namun, kunjungan demi kunjungan yang dilakukan Jokowi malah orang Papua semakin menderita di atas tanahnya.

Giay menegaskan apakah Orang Asli Papua harus memeluk Islam atau menjadi seperti orang Indonesia dulu, baru ada kemauan dari pemerintah Indonesia berdialog dengan orang Papua. Jika demikian itu menunjukkan  masih ada sikap rasisme dari pemerintah Indonesia dalam memperlakukan orang Papua.

“Kalau dengan GAM bisa berunding? Kenapa dengan Papua tidak bisa? Mengapa (pemerintah) tidak bisa dialog dengan Papua. Ini (persoalan di Papua) harus diselesaikan,” katanya.

Giay menyatakan pengiriman pasukan keamanan tidak akan menyelesaikan masalah di Papua. Itu hanya akan membuat masyarakat Papua semakin menderita dan menuju kepunahan.

Dalam laporan yang berjudul “Perburuan Emas: Rencana Penambangan Blok Wabu Berisiko Memperparah Pelanggaran HAM di Papua” Amnesty Internasional telah mendokumentasikan penambahan aparat keamanan dalam jumlah yang mengkhawatirkan di daerah pemekaran sejak 2019, dari semula hanya dua pos militer meningkat menjadi 17 pos militer.

Amnesty juga mencatat setidaknya terjadi 12 kasus pembunuhan di luar hukum yang melibatkan aparat keamanan, peningkatan pembatasan kebebasan bergerak, pemukulan dan penangkapan yang kerap dialami oleh Orang Asli Papuasetempat.

Sebelumnya, Ketua Dewan Adat Papua versi Musyawarah Besar Masyarakat Adat Papua IV, Mananwir Yan Pieter Yarangga menyampaikan, pemerintah pusat harus berani melakukan dialog damai dengan orang Papua. Dialog damai itu penting untuk menyelesaikan segala masalah yang dialami Orang Asli Papua.

Yarangga menyampaikan akar masalah Papua hanya bisa diselesaikan dengan dialog damai yang melibatkan semua pihak yang bermasalah. Dialog itu nantinya harus bisa disaksikan semua Orang Asli Papua, baik di tingkat daerah, nasional dan tingkat internasional.

Rabu, 18 Mei 2022

Pemerintah Selandia Baru Bantu Kesulitan Mahasiswa Papua, Pemprov Papua: Kami Menyampaikan Terima Kasih

Mahasiswa Bumi Cenderawasih kini tengah menjalani studi pendidikan di wilayah Selandia setempat. Maka dari itu, Pemerintah Provinsi Papua mengharapkan Pemerintah Selandia Baru dapat memperhatikan lebih mengenai mahasiswa tersebut.

Harapan tersebut sudah disampaikan Asisten Bidang Pemerintahan Setda Provinsi Papua Doren Wakerkwa di Jayapura, Rabu (18/5/2022), mengatakan berdasarkan data dari Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) setempat tercatat 59 mahasiswa asal Bumi Cenderawasih ini tengah menjalani studi di Selandia Baru.

“Kami juga menyampaikan terima kasih kepada perwakilan Kedutaan Besar Selandia Baru yang sudah membantu anak-anak Papua di sana selama ini,” ucapnya.

Menurut Doren, mahasiswa Papua yang ada di negara tersebut mulai dari S1, S2, S3 serta mahasiswa profesi dan vokasi.

“Dengan bantuan dari pemerintah Selandia Baru mahasiswa kami juga ada yang telah menyelesaikan studinya tepat waktu,” ujarnya.

Doren menjelaskan sehingga pihaknya berharap bagi anak-anak Papua yang sedang menjalani proses pembelajaran kini juga bisa dibantu agar selesai tepat waktu.

“Kami harap pemerintah Selandia Baru bisa menolong dan membantu hingga para mahasiswa cepat selesai pendidikannya, sehingga bisa pulang ke tanah kelahirannya menjadi orang hebat,” katanya lagi.

Doren menambahkan, pihaknya sangat berterimakasih atas segala bantuan pada bidang aspek lainnya yang sudah memperhatikan Papua.

Senada dengan Doren Wakerkwa, Second Secretary (Political) New Zealand Embassy Patrick Fitzgibbon mengatakan Pemerintah Selandia Baru merasa bangga karena sudah dinobatkan sebagai tuan rumah pendidikan dari para mahasiswa Papua.

“Kami sudah lama menjalin kerja sama dengan pemerintah Indonesia untuk itu sangat senang banyak mahasiswa Indonesia khususnya Papua datang belajar,” katanya.